PERGESERAN BAHASA LOKAL DAN TANTANGAN PENDIDIKAN MULTIBAHASA DI BANDA NAIRA: Kajian Sosiolinguistik atas Melayu Banda dan Tutur Wandan
Isi Artikel Utama
Abstrak
Penelitian ini mengkaji pergeseran bahasa lokal di Banda Naira dan tantangannya bagi pendidikan multibahasa. Fokus kajian diarahkan pada Melayu Banda dan Tutur Wandan sebagai bagian dari identitas linguistik masyarakat Banda. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan bentuk pergeseran bahasa lokal, menganalisis faktor penyebabnya, dan menjelaskan strategi pelestarian bahasa daerah melalui pendidikan. Penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan sosiolinguistik. Data diperoleh melalui observasi, wawancara, teknik simak dan catat, serta dokumentasi tuturan masyarakat dan sastra lisan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tutur Wandan mengalami penyusutan fungsi di wilayah asalnya, sedangkan Melayu Banda masih bertahan sebagai bahasa tutur sehari-hari, tetapi berada dalam tekanan Bahasa Indonesia, Melayu Ambon, pariwisata, teknologi informasi, dan media digital. Temuan ini menunjukkan bahwa pendidikan multibahasa perlu dikembangkan melalui muatan lokal, bahan ajar kontekstual, dokumentasi bahasa, pemanfaatan kabata, dan pelibatan komunitas. Strategi tersebut penting untuk menjaga keberlanjutan bahasa lokal sekaligus memperkuat identitas budaya peserta didik di Banda Naira.
Rincian Artikel
Bagian
Artikel

Artikel ini berlisensi Creative Commons Attribution 4.0 International License.
Isi Artikel Utama
Abstrak
Penelitian ini mengkaji pergeseran bahasa lokal di Banda Naira dan tantangannya bagi pendidikan multibahasa. Fokus kajian diarahkan pada Melayu Banda dan Tutur Wandan sebagai bagian dari identitas linguistik masyarakat Banda. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan bentuk pergeseran bahasa lokal, menganalisis faktor penyebabnya, dan menjelaskan strategi pelestarian bahasa daerah melalui pendidikan. Penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan sosiolinguistik. Data diperoleh melalui observasi, wawancara, teknik simak dan catat, serta dokumentasi tuturan masyarakat dan sastra lisan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tutur Wandan mengalami penyusutan fungsi di wilayah asalnya, sedangkan Melayu Banda masih bertahan sebagai bahasa tutur sehari-hari, tetapi berada dalam tekanan Bahasa Indonesia, Melayu Ambon, pariwisata, teknologi informasi, dan media digital. Temuan ini menunjukkan bahwa pendidikan multibahasa perlu dikembangkan melalui muatan lokal, bahan ajar kontekstual, dokumentasi bahasa, pemanfaatan kabata, dan pelibatan komunitas. Strategi tersebut penting untuk menjaga keberlanjutan bahasa lokal sekaligus memperkuat identitas budaya peserta didik di Banda Naira.
Rincian Artikel

Artikel ini berlisensi Creative Commons Attribution 4.0 International License.